Tempat

Cerita Dari Dalam

Kedelai Tempe Tahu vs Mahasiswa Keledai

5000 pengerajin tempe tahu se Jabodetabek berdemo didepan istana presiden. Tempe tahu menghilang dari pasar, tukang sayur keliling, warteg, hingga meja makan. Mereka menjerit, berteriak : harga kedelai melambung tinggi. Dari 3000 per kg pada Agustus tahun lalu menjadi 7500 per kg selepas idul fitri.

Kedelai langka dipasar. Sesuai dengan hukum ekonomi tentunya, harga meroket. Di negeri Abang Sam, kedelai dijadikan bahan baku untuk bio fuel. Bukan untuk konsumsi manusia, tapi mesin-mesin.

Lucu! Makanan yang dianggap “merakyat” justru bahan bakunya impor. Wah. Mewah juga makanan rakyat Indonesia, tempe tahu “aslinya” dari luar negeri. Dari Amerika pula. Selucu kita mengimpor beras, padahal nasi adalah makanan pokok bangsa kita, yang serasa belum makan kalau belum melahap nasi.

Sebenarnya ini kesempatan. Ini saatnya petani menanam padi dan kedelai. Kapan lagi petani bisa merasakan harga yang tinggi. Namun, pemerintah toh bereaksi lain. Pemerintah akan mengimpor beras dan kedelai setiap kali harga melambung. Bukannya memperkuat produksi dalam negeri. Ya, memang demi stabilitas politik dan keamanan di kota, petani harus dikorbankan. Mending jutaan petani miskin didesa, daripada jutaan buruh pabrik dikota mengamuk karena harga beras mahal, tempe tahu tak tersedia. Petani tetap miskin sampai kapan pun. Sebuah penelitian menunjukkan margin terbesar atas keuntungan beras diterima oleh pedagang. Petani hanya mendapat sekitar 15 persen. (Seperti lagunya Slank…tak mungkin…tak mungkin…pak tani kaya)

Mahasiswa berdemo. Dengan bangga memakai jaket almamater. Ada yang kuning, hijau, merah, biru. Menggusung spanduk dan berteriak : Usut kasus BLBI. Tangkap dan Adili Koruptor BLBI. (Aku jadi ingat pernah meliput ini berkat cerita Dvd yang ternyata memiliki pengalaman yang sama).

Wah! Hebat juga nih rombongan mahasiswa. Rela dijemur matahari, bolos kuliah, demi memperjuangkan uang rakyat yang diselewengkan.

Satu mahasiswa sempat aku tanyai. Dengan ikat kepala dan bendera ditangan ia begitu bersemangat, seakan hendak melumat para koruptor itu.

Fian : “Apa itu BLBI?”
Mahasiswa A : “Bantuan Likuiditas Bank Indonesia”
Fian : “Iya. Maksudnya apa? Untuk apa BLBI itu?”
Mahasiswa A : “Pokoknya itu uang rakyat yang dikorup”
Fian : “Berapa banyak?”
Mahasiswa A : “Banyaklah. Ratusan triliun.”
Fian : “Bagaimana mereka mengkorup BLBI?”
Mahasiswa A : “Caranya macam-macam.Pokoknya koruptor harus kita habisi.”
Fian : “Berapa besar BLBI membebani APBN setiap tahun?”
Mahasiswa A : “Banyak. Dan dananya bisa dipakai untuk pendidikan murah.”
Fian : “Berapa persisnya?”
Mahasiswa A diam saja. Lalu memanggil beberapa temannya. Dan jawaban hanya gelengan, diam, berbisik kepada rekan disampingnya.

Jadi ingat demo pengerajin tempe tahu. Sebut saja Z. Lulus SD pun tidak. Tapi ia tahu apa yang ia perjuangkan. Harga kedelai melonjak, mata pencarian mereka terancam. Berarti dapur terancam dingin. Mereka resah. Mereka lemah. Mereka meminta bantuan pemerintah. Yang mereka suarakan adalah masalah hidup mereka. Yang mereka tahu. Jika aku bertanya kepada mereka apa itu BLBI, dan mereka menggeleng, aku paham.

18 Januari 2008 Ditulis oleh anthem24 | opini | , , | No Comments Yet

Tempe, enak dibacem dan perlu, tahu!

Gua pikir si tukang sayur lagi ndagel waktu dia mengultimatum bahwa senin (hari ini, 14/1) tidak ada tempe dan tahu. Bisa saja itu akal-akalan dia aja gara-gara banyak diutangin apalagi belakangan banyak cerita harga keledai eh kedelai naik.

Cerita soal tempe-tahu ini memang dihembuskan rapi sekali. Awal pekan lalu hanya ada satu berita kecil di televisi soal keluhan pengusaha tahu di Jawa. Beberapa hari kemudian cerita soal pengusaha tempe dan tahu di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi mulai gantung (gantung apa ya?) karena harga kacang kedelai sudah kelewat tinggi.

Pengusaha pabrik tempe dan tahu akhirnya harus belajar meniru pejabat pimpro di departemen. Tahunya tetap sama tapi spesifikasinya dimodifikasi. Tahu dibuat lebih tipis tapi ukuran potongan agak ditambah supaya kelihatannya tetap besar sementara harganya didongkrak naik. Hari ini koperasi pengusaha tempe dan tahu unjuk rasa di depan istana Presiden SBY yang kabarnya gemar makan tahu itu.

Gua harus menyatakan salut dengan korlip stasiun televisi swasta di kebon jeruk yang menyuruh reporternya masuk ke pasar (yang gua kenal betul lokasi pasar itu ada di Tanjung Duren tempat dulu mengejar tukang ayam potong dan menanyakan soal flu burung). Reporter itu pulang membawa berita yang bagus, pedagang tahu di pasar itu tida berjualan. Bukan karena tidak ada tahu yang bisa dijual atau bermental tempe sehingga takut makanan olahan dari kedelai itu terlalu mahal untuk dibeli. Melainkan sebuah edaran dari pengurus koperasi memerintahkan mereka tidak berjualan selama tiga hari atau jualan mereka akan disita ditambah denda, busyet, SATU JUTA RUPIAH!

Jadi si yanto tukang sayur yang setiap pagi lewat di depan rumah itu bukannya malas bawa tempe, tapi dia tahu tukang tahu tidak akan jualan karena koperasi pengusaha tahu mau mogok jualan. Anehnya kok tahu-tahu tuntutan pengusaha tahu ini minta impor kedelai kembali dijalankan oleh Bulog bukan oleh perusahaan swasta. Biasanya tuntutan kan cukup pemerintah memperhatikan suplai dan mengontrol harga kedelai karena pemerintah bukan keledai yang membiarkan begitu saja ada yang mencari keuntungan dengan memainkan harga kedelai.

Tempe dan tahu dulunya identik dengan makanan di kala bokek. Kalau tempe dan tahu jadi mahal, lantas kalau kantong lagi kosong mau makan apa? Kenapa ketika tempe langka ketika mantan presiden yang dulu memuja tempe sedang sakit. Pertanda apa ini?

14 Januari 2008 Ditulis oleh 8zone | ekbis | , | & Komentar