Rabu dini hari…sambil berbaring di ubin teras RS Pertamina
Dingin! Semakin dingin! Dalam 24 jam terakhir belum sekejap pun aku terlelap. Malam sepi dan aku masih terjaga. Untungnya tak sendiri. Puluhan jurnalis yang lain juga menunggu. Bermalam diluar rumah bukan kemping. Entah dengan kamera, pena atau recorder.
Didalam sana, dilantai 5 terbaring orang nomor satu orde baru : Soeharto. 32 tahun ia berkuasa sebelum lengser Mei 1998. Pria yang menjadi bagian dari sejarah republik ini.
The Smiling General…entah ia masih bisa tersenyum saat ini. Jenderal besar yang bintangnya telah pudar dan semakin redup.
Orang lalu mengingat dosa. Ada pula yang mengenang jasa. Lalu ditimbang. Saya sendiri bimbang.
Saya dulu menggagumi sosok pria desa asal Wonogiri itu. Membawa Indonesia dari keterpurukan diakhir era Soekarno menuju pembangunan. Saat 1998, mahasiswa bergerak menumbangkan Soeharto, saya masih bertanya-tanya. Apakah Soeharto yang menanggung semua dosa?
Soeharto yang dulunya dipuja sekarang dicap koruptor nomor satu, pelanggar HAM pula.
Lalu ia terguling. Reformasi dimulai. Empat presiden berkuasa. Dari sang wakil yang naik mendadak, Habibie, Gus Dur, Megawati, lalu SBY. Indonesia toh tak makin baik. Ada yang bilang kerusakan yang diciptakan Soeharto kronis sehingga bangsa ini butuh waktu lama untuk pulih.
Saya lahir dimasa Soeharto berkuasa, tumbuh pada jaman itu pula. Tak mengerti benar apa ang diperjuangkan oleh aktivis 1998 waktu itu. Saya masih berseragam putih abu-abu. Yang saya rasakan adalah stabilitas, ketenangan, tak ada kerusuhan. Masih ada kebanggaan karena Indonesia masih dipandang didunia internasional. Di Asia Tenggara, Indonesia adalah macan. Merah putih yang berkibar didepan rumah tampak gagah.
Sekarang ia terbaring sakit. Untuk ke sekian kalinya menginap di RSPP yang tarifnya semalam setara dengan hotel bintang lima. Apalagi keluarga cendana memborong satu lantai. Tagihan pun dibayar dari kantong pribadi.
Demonstrasi silih berganti. Ada yang menuntut proses hukum Soeharto diteruskan. Ada yang meminta ia dimaafkan. Jaksa Agung atas perintah Presiden pun datang menawarkan damai atas tuntutan perdata yang sekarang sedang disidangkan.
Soeharto dituduh korupsi. Ia menumpuk harta melalui yayasan yang ia dirikan selama berkuasa. Majalah Time malah menahbiskan Soeharto sebagai orang terkaya. Soeharto menuntut dan menang, Time harus membayar ganti rugi sebesar Rp 1 Triliun.
Kekuasaan memang memabukkan. Apakah itu alasan ia bertahan demikian lama?
Entahlah. Mungkin karena bisikan dari orang-orang dekatnya yang terlalu manis. Mereka tentu tak ingin cipratan kekuasaan yang mereka tebengi berhenti.
Soeharto dengan ambisi menciptakan stabilitas dinegeri ini memanfaatkan kuasa yang ia punya. Militer alat utamanya. Konflik selalu ia redam. Demokrasi seakan padam. Tapi, toh dosa itu tak harus ditanggung oleh dia sendiri. Ini dosa bersama. Mungkin tak semua, tapi segelintir orang dilingkaran kekuasaan turut terlibat.
Think tank Soeharto memberikan ia ide, lalu ia mengeluarkan perintah, anak buah akan melakukan apa saja untuk menyenangkan hati sang jenderal.
Dengan motto “Asal Bapak Senang”, mereka menuruti perintah Soeharto dengan cara mereka sendiri. Asal semua beres, apapun yang mampu dilakukan, mereka lakukan.
Secara politik, Soeharto melakukan apa yang harus ia lakukan untuk menciptakan kestabilan.
Okelah. Bagi rakyat yang terpenting cukup pangan, sandang, papan. Nah, mana peduli mereka hak politik atau demokrasi.
Secara ekonomi, konsep yang diusung oleh Mafia Berkeley lah yang ia percaya.
Membangun bangsa ini diatas utang yang semakin menumpuk. Harga sembako stabil. Stok cukup sehingga tak perlu antri. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen (meskipun kesenjangan semakin melebar, go to hell with trickle down effect yg ga pernah terjadi).
Saat jatuh tempo, bingung membayar. Proyek tak produktif. Di korup pula. Dari atas sampai bawah. Soeharto bisa disalahkan. Jika pemimpin anti korupsi, mana ada yang dibawah berani menyeleweng. Begitu kira-kira.
Menurutku dosa juga terletak pada orang-orang dekatnya. Termasuk anak-anaknya yang memanfaatkan posisi ayahnya sebagai presiden untuk menggais keuntungan pribadi. Seiring dengan tumbuhnya putra-putri Soeharto, keserakahan semakin besar. Soeharto mah kalem aja. Anak-anaknya yang beringasan. Ia gagal menjadi ayah yang baik dalam mendidik anaknya.
Era reformasi, ada yang sekonyong-konyong menjadi musuh orba padahal dalam hati menyimpan sejumput rindu.
Atau dulunya ikut menikmati lingkaran kekuasaan.
Bagi rakyat biasa seperti saya yang tidak mengerti apa itu demokrasi dan politik, yang penting perut kenyang hidup tenang. Bisa tidur nyenyak dipagi hari, sarapan singkong rebus atau pisang goreng dengan segelas kopi, bekerja dengan nyaman, pulang, tidur nyenyak, tak pernah bermimpi yang muluk-muluk.
Mungkin beda dengan orang yang mengaku kaum intelektual, cendikiawan yang mengagungkan demokrasi diatas banyak hal. Bagi elite politik yang sibuk jual bicara demi sebuah kursi empuk di Senayan. Mengincar jabatan dan tentu saja uang.
Sekarang masyarakat kebablasan. Dalam era bebas yang bablas, lepas kendali.
…bersambung…