Saya tak tahu berapa banyak publik yang sakit hati terhadap Soeharto. Seorang kawan di Priok, konon, pernah menyaksikan tragedi Tanjung Priok. Ia, yang malam itu mengintip dari balik horden, menyaksikan sejumlah truk menggilas puluhan tubuh yang terkapar di aspal. “Setelah itu mobil pemadam datang, menyemprotkan air ke jalan untuk membersihkan sisa darah,” katanya.
Saya juga pernah dengar kebiadaban lain. Bertahun-tahun lalu, ketika asik menyusuri jalan ditepi sawah di kampung, kakek saya mengatakan, “Dulu, waktu penumpasan PKI, orang-orang dibariskan di sepanjang jalan ini. Mereka disuruh jongkok. Setelah itu tentara menembak kepala mereka, satu per satu.”
Tubuh-tubuh tanpa nyawa itu kemudian dilempar ke parit di sepanjang jalan lalu ditimbun begitu saja. “Ini jadi kuburan terpanjang disini,” katanya. Banyak lagi kisah lain. Saya tak yakin betul kebenaran cerita-cerita tersebut.
Masa pemerintahan Soeharto barangkali memang dipenuhi bercak darah. Orang-orang yang darahnya dimuncratkan itu, barangkali memang layak bertanya, “Kapan Mati?”
Barisan orang yang sakit hati terhadap Soeharto, yang Bapaknya dihilangkan, yang hidupnya terenggut, yang dilempar ke penjara tanpa kesalahan, sudah pasti geram melihat hukum tak pernah berhasil menjeratnya. Tapi di alam nanti, setelah kematiannya, Soeharto akan menjalani babak baru: pengadilan Tuhan sudah menunggu disana.
Jadi, ‘Kapan Mati?’