<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Tempat</title>
	<atom:link href="http://tempat.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tempat.wordpress.com</link>
	<description>Cerita Dari Dalam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Sep 2009 13:24:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Kriuuukkk. oleh adek</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/03/18/kriuuukkk/#comment-66</link>
		<dc:creator>adek</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 13:24:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=32#comment-66</guid>
		<description>Kirain ngomongin kerupuk :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kirain ngomongin kerupuk <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Rezim Kekerasan Kembali oleh 8zone</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/05/24/rezim-kekerasan-kembali-2/#comment-64</link>
		<dc:creator>8zone</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 13:52:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=33#comment-64</guid>
		<description>Penyadaran politik tak pernah berhasil dilakukan lewat demonstrasi, setidaknya tidak dalam sejarah Indonesia. Dalam konteks ini, saudara perlu membuka mata juga bahwa aksi-aksi turun ke jalan ini malah menuai cibir bukan senyum.

Aksi menyelamatkan masyarakatkan yang tak peka penderitaan mereka yang apolitis bukankah malah membuat masyarakat jadi apatis? Masih adakah orang yang sukarela mengirimkan nasi bungkus untuk mahasiswa yang berdemo seperti era &#039;98?

Make no mistake, demonstrasi tetap perlu dilakukan. Tapi ada perbedaan besar antara demonstrasi yang cerdas penuh strategi dengan demonstrasi asal turun ke jalan. Makanya jangan unjuk rasa tapi unjuk otak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Penyadaran politik tak pernah berhasil dilakukan lewat demonstrasi, setidaknya tidak dalam sejarah Indonesia. Dalam konteks ini, saudara perlu membuka mata juga bahwa aksi-aksi turun ke jalan ini malah menuai cibir bukan senyum.</p>
<p>Aksi menyelamatkan masyarakatkan yang tak peka penderitaan mereka yang apolitis bukankah malah membuat masyarakat jadi apatis? Masih adakah orang yang sukarela mengirimkan nasi bungkus untuk mahasiswa yang berdemo seperti era &#8216;98?</p>
<p>Make no mistake, demonstrasi tetap perlu dilakukan. Tapi ada perbedaan besar antara demonstrasi yang cerdas penuh strategi dengan demonstrasi asal turun ke jalan. Makanya jangan unjuk rasa tapi unjuk otak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Rezim Kekerasan Kembali oleh Santo</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/05/24/rezim-kekerasan-kembali-2/#comment-63</link>
		<dc:creator>Santo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 16:53:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=33#comment-63</guid>
		<description>Pak Raden, satu hal yang hilang dari masyarakat Indonesia selama ini adalah kesadaran politik! Selama ini, politik nasional lebih diwarnai oleh partisipasi yang dimobilisasi. 

Kaitannya ama demo mahasiswa yang marak akhir2 ini adalah, bahwa demo-demo tadi bukanlah bentuk partisipasi politik yang termobilisasi. Mahasiswa &#039;lebih&#039; punya kesadaran politik dibanding kita yang menghamba pada modal. Oke, bentuk partisipasi politik tidak selamanya demonstrasi! Tapi, apa yang mereka suarakan adalah suara kita juga, bukan? Atau minimal suara saya lah.

Di sini, saya mendukung penuh aksi-aksi mahasiswa itu. Apakah itu rusuh atau tidak! (Hati-hati pake istilah anarkis!) Saya melihat demo2 tadi sbg bentuk perlawanan yang riil dari kelompok masyarakat tertindas.

Kalo kemudian ekses demo adalah orang melintas terganggu sehingga tidak bisa beraktivitas, saya tidak ada masalah dengan itu. (Catt: saya pernah terjebak macet krn demo di Moestopo) Saya malah mendukungnya! Kenapa? Orang yang beraktivitas itu rata2 adalah mereka yg bekerja. Biarkan saja orang tidak bekerja (baca: menghamba pada modal), sehingga para kapitalis itulah yang merasakan efek terbesarnya.

Di sini saya menghimbau agar adik2 mahasiwa tetap melanjutkan aksi! Ciptakanlah kemacetan sosial. Biarkan roda gerigi modal macet. Jangan biarkan modal bekerja setiap harinya sehingga menambah pundi-pundi para kapitalis! Kemacetan sosial akan membuka mata pemilik modal! 

Tentu ada harga yang harus dibayar di balik itu. Aparat keamanan dipastikan akan kembali berselingkuh dengan modal untuk menghentikan aksi-aksi tadi. Kalo ini terjadi, allah hu alam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Raden, satu hal yang hilang dari masyarakat Indonesia selama ini adalah kesadaran politik! Selama ini, politik nasional lebih diwarnai oleh partisipasi yang dimobilisasi. </p>
<p>Kaitannya ama demo mahasiswa yang marak akhir2 ini adalah, bahwa demo-demo tadi bukanlah bentuk partisipasi politik yang termobilisasi. Mahasiswa &#8216;lebih&#8217; punya kesadaran politik dibanding kita yang menghamba pada modal. Oke, bentuk partisipasi politik tidak selamanya demonstrasi! Tapi, apa yang mereka suarakan adalah suara kita juga, bukan? Atau minimal suara saya lah.</p>
<p>Di sini, saya mendukung penuh aksi-aksi mahasiswa itu. Apakah itu rusuh atau tidak! (Hati-hati pake istilah anarkis!) Saya melihat demo2 tadi sbg bentuk perlawanan yang riil dari kelompok masyarakat tertindas.</p>
<p>Kalo kemudian ekses demo adalah orang melintas terganggu sehingga tidak bisa beraktivitas, saya tidak ada masalah dengan itu. (Catt: saya pernah terjebak macet krn demo di Moestopo) Saya malah mendukungnya! Kenapa? Orang yang beraktivitas itu rata2 adalah mereka yg bekerja. Biarkan saja orang tidak bekerja (baca: menghamba pada modal), sehingga para kapitalis itulah yang merasakan efek terbesarnya.</p>
<p>Di sini saya menghimbau agar adik2 mahasiwa tetap melanjutkan aksi! Ciptakanlah kemacetan sosial. Biarkan roda gerigi modal macet. Jangan biarkan modal bekerja setiap harinya sehingga menambah pundi-pundi para kapitalis! Kemacetan sosial akan membuka mata pemilik modal! </p>
<p>Tentu ada harga yang harus dibayar di balik itu. Aparat keamanan dipastikan akan kembali berselingkuh dengan modal untuk menghentikan aksi-aksi tadi. Kalo ini terjadi, allah hu alam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Rezim Kekerasan Kembali oleh raden</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/05/24/rezim-kekerasan-kembali-2/#comment-62</link>
		<dc:creator>raden</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 14:22:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=33#comment-62</guid>
		<description>Peristiwa penyerbuan Unas oleh polisi, memang coreng hitam di muka pemerintah. Alasan polisi dan (mungkin) laporan intelejen bahwa telah banyak molotov yang diproduksi oleh para mahasiswa Unas, serta aksi yang dianggap berpotensi mengancam HAM masyarakat sekitar kampus, sangat debatable. 

Tindakan represif polisi, memang bisa mencegah aksi yang mereka khatirkan. Tapi, lihatlah dampaknya..... aksi represif itu, justru menggantang aksi solidaritas di Makassar, Medan, dan beberapa tempat lainnya. 

Yang paling mencolok, aksi para mahasiswa UKI, Jakarta. Hujan molotov mengguyur jalan raya, depan kampus yang terletak di Cawang, Jakarta Timur itu. Perempatan jalan yang menghubungkan Bogor, Depok, Tol Cikampek, diblokade mahasiswa. 

Yang agak aku sayangkan adalah aksi anarkis para mahasiswa UKI ini. Menggugat kebijakan pemerintah menaikkan BBM, adalah kemerdekaan yang dijamin konstitusi. Blokade jalan, juga bagian dari teknik menekan pemerintah. Tapi, kalau masyarakat yang berusaha melintas kawasan itu, bahkan pedagang kaki lima juga dianiaya, tentu akan menjadi bumerang. Jangan sampai, simpati tak dapat, cercaan menggurat.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa penyerbuan Unas oleh polisi, memang coreng hitam di muka pemerintah. Alasan polisi dan (mungkin) laporan intelejen bahwa telah banyak molotov yang diproduksi oleh para mahasiswa Unas, serta aksi yang dianggap berpotensi mengancam HAM masyarakat sekitar kampus, sangat debatable. </p>
<p>Tindakan represif polisi, memang bisa mencegah aksi yang mereka khatirkan. Tapi, lihatlah dampaknya&#8230;.. aksi represif itu, justru menggantang aksi solidaritas di Makassar, Medan, dan beberapa tempat lainnya. </p>
<p>Yang paling mencolok, aksi para mahasiswa UKI, Jakarta. Hujan molotov mengguyur jalan raya, depan kampus yang terletak di Cawang, Jakarta Timur itu. Perempatan jalan yang menghubungkan Bogor, Depok, Tol Cikampek, diblokade mahasiswa. </p>
<p>Yang agak aku sayangkan adalah aksi anarkis para mahasiswa UKI ini. Menggugat kebijakan pemerintah menaikkan BBM, adalah kemerdekaan yang dijamin konstitusi. Blokade jalan, juga bagian dari teknik menekan pemerintah. Tapi, kalau masyarakat yang berusaha melintas kawasan itu, bahkan pedagang kaki lima juga dianiaya, tentu akan menjadi bumerang. Jangan sampai, simpati tak dapat, cercaan menggurat.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Kriuuukkk. oleh raden</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/03/18/kriuuukkk/#comment-61</link>
		<dc:creator>raden</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 07:57:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=32#comment-61</guid>
		<description>Duh.....
Sedih banget
tiga tahun aku merasakan seperti yang dirasakan Kikid. Bukan berarti sekarang sudah tak merasakan hal itu lagi. Tapi, aku berkeras ingin mengurangi kezaliman itu, seperti sunah nabi yang telah dituturkan turun-temurun: HIJRAH.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Duh&#8230;..<br />
Sedih banget<br />
tiga tahun aku merasakan seperti yang dirasakan Kikid. Bukan berarti sekarang sudah tak merasakan hal itu lagi. Tapi, aku berkeras ingin mengurangi kezaliman itu, seperti sunah nabi yang telah dituturkan turun-temurun: HIJRAH.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Kriuuukkk. oleh ibnu</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/03/18/kriuuukkk/#comment-60</link>
		<dc:creator>ibnu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 12:50:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=32#comment-60</guid>
		<description>wakakakkaka ternyata ini semua soal LAUK!

eh tapi qkid, gue mendukung kalo lo pake tengtop doang. yaa jangan pas kantor lagi rame deh. tapi usahakan pas gue hadir di kantor.

terima kasih banyak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wakakakkaka ternyata ini semua soal LAUK!</p>
<p>eh tapi qkid, gue mendukung kalo lo pake tengtop doang. yaa jangan pas kantor lagi rame deh. tapi usahakan pas gue hadir di kantor.</p>
<p>terima kasih banyak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Ketika Lukisan Diparodikan oleh 8zone</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/02/10/ketika-lukisan-diparodikan/#comment-59</link>
		<dc:creator>8zone</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 08:30:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=29#comment-59</guid>
		<description>ah kayaknya salah besar kalau gak ada keberatan. ada keberatan tapi tidak kebagian porsi pemberitaan. Waktu golden compass mau muncul ada pengecaman begitu juga untuk buku dan film da vinci code dst dst

tapi kalau ngadu ke polisi ah itu mah cuma cari sensasi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ah kayaknya salah besar kalau gak ada keberatan. ada keberatan tapi tidak kebagian porsi pemberitaan. Waktu golden compass mau muncul ada pengecaman begitu juga untuk buku dan film da vinci code dst dst</p>
<p>tapi kalau ngadu ke polisi ah itu mah cuma cari sensasi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Ketika Lukisan Diparodikan oleh agus.perdana</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/02/10/ketika-lukisan-diparodikan/#comment-58</link>
		<dc:creator>agus.perdana</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 18:42:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=29#comment-58</guid>
		<description>sah-sah saja,setelah melihat cover majalah tempo.
tidak ada yang merasa dirugikan,toh hanya parodi,
ide kreatif tuh,top!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sah-sah saja,setelah melihat cover majalah tempo.<br />
tidak ada yang merasa dirugikan,toh hanya parodi,<br />
ide kreatif tuh,top!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Ketika Lukisan Diparodikan oleh hherawati</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/02/10/ketika-lukisan-diparodikan/#comment-57</link>
		<dc:creator>hherawati</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 01:26:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=29#comment-57</guid>
		<description>Baru tahu kalau banyak lukisan parodi dari the last supper... tapi nggak ada reaksi yang berlebihan tuh dari negara barat sana... mungkin menurut mereka biasa?????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Baru tahu kalau banyak lukisan parodi dari the last supper&#8230; tapi nggak ada reaksi yang berlebihan tuh dari negara barat sana&#8230; mungkin menurut mereka biasa?????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Ketika Lukisan Diparodikan oleh Tyas</title>
		<link>http://tempat.wordpress.com/2008/02/10/ketika-lukisan-diparodikan/#comment-56</link>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 17:28:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tempat.wordpress.com/?p=29#comment-56</guid>
		<description>Intinya, mereka tidak layak menggugat dan melaporkan majalah Tempo. Toh, sebagian umat katolik, termasuk saya, tidak merasa terganggu dengan adanya parodi itu...
Saya malah berpikir bahwa mereka yang melaporkan hal ini ke polisi, bukanlah orang kristiani yang mengimani Yesus sebagai juru selamat. Mereka seharusnya membuka mata dan hati lebih luas lagi...

Salam damai,

Aningtyas W.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Intinya, mereka tidak layak menggugat dan melaporkan majalah Tempo. Toh, sebagian umat katolik, termasuk saya, tidak merasa terganggu dengan adanya parodi itu&#8230;<br />
Saya malah berpikir bahwa mereka yang melaporkan hal ini ke polisi, bukanlah orang kristiani yang mengimani Yesus sebagai juru selamat. Mereka seharusnya membuka mata dan hati lebih luas lagi&#8230;</p>
<p>Salam damai,</p>
<p>Aningtyas W.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
