Tempat

Cerita Dari Dalam

Rezim Kekerasan Kembali

Rezim SBY menunjukkan watak aslinya. Suara protes dibungkam dengan kekerasan, layaknya apa yang terjadi pada masa orde baru.

SBY, yang katanya, tidak akan menaikkan harga BBM, harus menjilat ludahnya sendiri. Dugaan bahwa ia lebih tunduk pada modal asing dan kapitalisme menyeruak. Segala alasan akademis dan ekonomis dikeluarkan para pejabat berserta gerbongnya.

Ketika rakyat menyuarakan penolakan, kekuasaan gerah. Dengan cara-cara ter’halus’, aparat membubarkan aksi. Api kekerasan kembali nyala, layaknya api tersiram bensin. Bahkan peluru sudah menggantikan secuil daging di tubuh rakyat.

Rezim menyuap 100 rb per keluarga sebagai gantinya. Padahal pemerintah sendiri tidak siap; data pusat dan daerah tidak sinkron. Di sini terlihat watak asli rezim lainnya; masih sentralistik. Kalau daerah belum siap, kenapa harus dipaksakan?

Dari semua itu, yang paling menggemaskan adalah cara-cara represif aparat menanggapi pernyampaian aspirasi, yang kebetulan berbeda dengan pemerintah. Reaksi penolakan kenaikan BBM, di berbagai tempat nusantara, segera mendapat ‘respon’. Menangkapi demonstran, memukul secara colongan, bahkan menyiksa ketika di tahanan, menjadi cerita usang yang kembali naik daun.

24 Mei 2008 Ditulis oleh anipar14th | universal | | No Comments Yet

Kriuuukkk.

Kuambil satu kotak putih paling atas yang ditumpuk bersama kotak lainnya, disusun rapih diikat dengan tali rafia abu-abu. Berjajar empat baris keatas dan lima baris kebelakang. Kuletakkan kotak yang kuambil di satu sisi meja yang kosong. Kutahan nafasku beberapa detik membayangkan akan melihat sesuatu yang menggiurkan berkelebat dimataku. Kututup mataku sekejap menghimpun sugesti, kubayangkan warna-warna yang indah, hijau terang, kuning terang, biru laut, merah muda, warna-warna yang selalu membangkitkan seleraku. Memberikanku semangat, seberapapun buruknya hidup selalu ada yang bisa disyukuri.

Kuhembuskan perlahan-lahan nafasku. Kulihat perjalanan hari ini. Pukul 8 pagi, matahari mulai naik tapi kesejukan udara pagi masih terasa. Motor Yamaha Mio merahku, kubawa keluar melewati pintu gerbang. Kutarik gas perlahan sambil menikmati udara segar yang dalam hitungan menit pasti akan habis saat aku keluar dari komplek rumahku. Kubuka kaca helm dan kukendorkan maskerku supaya bisa kuhirup udara pagi Jakarta yang semakin langka.

Tiinnnn.. suara klakson motor dibelakangku membuyarkan kenikmatanku. Aku sudah ada diujung jalan raya, hiruk pikuk kendaraan bermotor sudah didepanku. Kurapatkan masker wajah, dan kututup helm. Kupacu motorku semakin kencang hingga 80 kilometer per jam. Baru satu kilometer, kecepatan terpaksa kukurangi hingga kurang dari 10 kilometer per jam. Realita yang tidak pernah habis, kemacetan yang semakin parah dari hari ke hari tanpa solusi yang berarti.

Keringat mulai mengucur dibalik jaket biruku. Kukeraskan volume MP3 playerku. Menjerit-jerit suara Avril Lavigne ditelingaku, bersaing dengan deruan motor. I am young and I am free, but I get tired and I get weak, I get lost and I cant sleep. But Suddenly, suddenly..

Fiuhh.. sampai juga di Departemen Kesehatan, posku selama tiga bulan terakhir. Jam tanganku menunjukkan pukul 9.15, masih ada 15 menit sebelum Menkes melantik eselon satu dan dua. Kupesan satu teh botol paling dingin untuk melegakan tenggorokanku setelah melakukan ’sauna’ 1 jam 15 menit di jalan Raya Buncit yang tidak pernah lengang kecuali tengah malam dan lebaran.

Sampai dilantai dua gedung Depkes yang berada di jalan Rasuna Said, aku langsung masuk aula. Kuikuti acara pelantikan yang diisi dengan pidato menteri. Acara berakhir pukul 1 siang. Dengan komunikator cicilan kantor kukirim dua berita soal asuransi kesehatan dan obat generik. Perutku mulai merasa lapar, tapi masih ada satu acara lagi yang harus diliput. Diskusi soal AIDS pukul 14.00 di daerah jalan Sudirman.

Tidak ada makan siang, ya sudahlah makan dikantor saja. Pukul 4.30 acara selesai, perutku sudah mulai teriak nih, sepertinya maagku bakalan kambuh kalau tidak segera makan. Kupacu motorku menuju kantor, kalau enggak macet sepuluh menit saja. Tapi jam pulang kantor mana ada yang enggak macet, meski sudah 3 in 1, jalanan lengang hanya kayalan.

Hoshh.. sampai juga dikantor Velbak, kuletakkan helm dipos, sambil kuatur nafasku setelah menahan nafas ditengah deru knalpot metromini 69 Blok M – Cileduk. “Dapat berita apa?” redakturku menyapa riang, berharap dapat oleh-oleh berita bagus. “Ntar ya Mas, makan dulu, laper nih.” . Cepetan ya.., berita asuransi head line ya, trus masih ada yang harus kamu lengkapi nih.

Kunyalakan komputer dimejaku, sambil cepat-cepat kulepas jaket dan sepatuku, rasanya badanku sudah pengap semua. Seandainya kantor ini hanya berisi kaum hawa, pasti sudah ikut lepas kemajaku dan hanya pakai tanktop.

Kulangkahkan kakiku menuju meja tengah, tumpukan kotak putih sudah dijajar rapih. Kututup mataku tiga detik, kuhirup nafasku dalam-dalam dan kulepaskan pelan-pelan. Mulai kubuka tutup kotak putih, kukeluarkan sepotong melon dan kerupuk. Terakhir kubuka plastik penutupnya. Ahhhh.. Pleasee… aku hanya bisa menelan ludah yang sudah mulai kering.

Tahu goreng tepung kuning pucat yang sudah dingin dan setengah terendam minyak. Sepotong ikan gulai, hmfff.. agak bau dan lembek. Sayur orak arik buncis dan wortel diserut tipis, pahit. Kuambil sepotong melonnya, satu-satunya yang bisa kumakan dan kubanting tutup putihnya keatas kotak yang sudah kubuka. Kriukkkk.. perutku benar-benar teriak kali ini.

18 Maret 2008 Ditulis oleh qkid | universal | | & Komentar

Menunggu Kematian

Lantai dua sebuah ruko di ujung aspal di Jakarta tiba-tiba sunyi senyap. Satu-dua pasang mata orang di dalamnya terus memelototi layar monitor di hadapannya. Hampir tak ada suara, kecuali suara ketikan komputer dan mouse yang bergerak-gerak. Kecuali juga satu topik pertanyaan: soal kabar dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, tempat Soeharto dirawat.

Tak seberapa lama tadi kondisi berbeda terasa. Suara demi suara terdengar, paling tidak bisikan dari ujung lantai itu sampai juga ke telinga ujung lainnya. Beberapa orang berdiri dari tempat duduknya. Beberapa lainnya hilir mudik naik-turun dari lantai dua dan tiga. Terasa sekali ada kesibukan yang dipaksakan. Satu saja yang sama dari tadi dan sekarang, jarum detik jam dinding melambat sejenak, berbeda dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

Ya, Soeharto mati! Begitu kata angin, yang membawa kabar –dengan kata lebih lembut didengar– kabar tutup usianya penguasa 32 tahun Orde Baru ini, hingga perlahan masuk ke tiap-tiap telinga yang ada di kantor malam itu.

Dua repoter piket malam dan reporter lain yang belum juga balik ke peraduan tampak siaga satu. Belakangan, sedikitnya delapan reporter menginap di kantor menunggu perkembangan. Srena, asisten redaktur, tak henti-henti mengalihkan telepon genggam dari daun telinganya. Dengan satu kaki ditongkrongkan di atas kursi, mata memelototi layar komputer, mulutnya komat-kamit berbincang pelan kepada seseorang di sana, seorang kawan reporter yang memantau langsung kondisi di rumah sakit.

Seseorang di di sebelah kiri si asisten juga tak kalah sibuk. Meski tak setegang Srena, dia mulai mengamati kondisi. Bos-bos, mulai turun dari kantornya di lantai tiga. Di luar, mobil Kijang milik Big Boss, berbelok tajam menyusuri pinggiran ruko dan parkir sekenanya di depan kantor.

Turunnya beberapa awak redaksi ke lantai dua bukan berarti lantai tiga tak ikut bersemarak atas kabar itu. Mata orang bahasa–begitu kami menyebut pada editor bahasa–sesekali menatap layar televisi. Dua televisi plasma di sudut-sudut lantai itu terus-menerus diisi kabar terbaru Soeharto.

Ruang juru foto, juga tak kalah sibuk. Bos foto, masuk ke ruang pojok lantai dua dan mulai melantangkan komando. Setelah memastikan satu awaknya telah siap memantau rumah sakit, perjalanan dinas untuk seorang fotografer pun digarap kilat untuk seorang fotografer. Tujuannya, tentu saja Dalem Kalitan, tempat persemayaman Tien Soeharto sebelas tahun lalu.

Karena perintah turun mendadak, tak ada satu pun tiket pesawat bisa dipesan malam itu. Karena mendadak pula, seorang staf sekretaris redaksi urung pulang dan mengurus uang talangan perjalanan dinas.

Jika memang benar Pak Harto tutup usia, malam ini tentu haram ditinggalkan. Kepanikan serupa telah kujumpai sepekan lalu di Headquarter di bilangan Jakarta Pusat. Ketika itu, Soeharto pertama atau bahkan lagi-lagi masuk rumah sakit. Semua media –baik cetak maupun elektronik– langsung menyorot kesehatan Soeharto, entah menunggu si Eyang membaik atau justru pertanyaan yang menjadi penting: Kapan mati?

Kematian seperti menjadi sangat penting jika dikaitkan Presiden yang lengser hampir 11 tahun silan oleh Gerakan Reformasi itu. Kematiannya menjadi tak tabu dibicarakan. Masuk-keluar dan masuk lagi-keluar lagi pria kelahiran Kemusuk Argamulya Yogyakarta 86 tahun silam itu dari RSPP Pertamina bukan lagi berita baru. Yang ditunggu memang tinggal kapan semua itu berita serupa berhenti.

Bos kompartemen nasional mengatakan kematian Soeharto adalah titik sejarah. “Dan sebagai wartawan, kita harus berada di titik itu,” katanya malam itu. Kapan lagi kematian begitu penting untuk didengar?
Dan sepertinya, malaikat pencabut nyawa masih enggan membelai rambut sang Eyang, setidaknya hingga pagi ini.

tjokrosasmito
diedit Dewan Etika

12 Januari 2008 Ditulis oleh tjokrosasmito | opini, peristiwa, universal | | No Comments Yet

pake Y?

Ingin menulis saja. Hati sedang kesal. Malam tahun baru, hendak berkunjung ke rumah yang terkasih, tapi hujan mengguyur Jakarta Selatan -atau mungkin hanya Kebayoran dan sekitarnya?

Kesal bukan karena hujan menghambatku beranjak dari kamar berukuran 4×3 meter di tepian Jalan Cipulir, tapi -lebih lagi- malah tetes air dari surga itu sudah kadung membasahi bajuku. Ya, melihat mendung mulai pekat dan kemerah-merahan, kunyalakan motorku menerjang gerimis kecil yang ternyata berubah deras sekali hanya berjarak satu kilometer dari kosanku.

Ohh..andai saja tadi aku cabut sedari awal. Padahal aku berharap akhir tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Aku ingat, 31 Desember 2006 pukul 00:00 WIB, kuberdiri di antara puluhan wartawan media cetak dan elektronik di Gerbang Tol Cililitan menyaksikan Menteri Negera BUMN Sugiharto dan Direktur Utama Jasa Marga Franz Sunito memberikan bingkisan tahun baru pengguna jalan tol.
Dan kini aku di sini. Belum juga menemui yang terkasih. Malah membenamkan diri di depan komputer kantor yang tampak mewah di antara serakan kertas dokumen-dokumen kerja. Hampir separuh bagian baju dan celanaku basah. Sial, rokok pun habis dan si Untung (pemilik warung ‘Sagala Aya?’ depan kantor) sudah menutup rombong kecilnya rapat-rapat.

Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin kuceritakan saat ini. Tapi tak juga tanpa kaitan. Hujan pada penghujung 2007, kuteringat seorang rekan kerja, Riki Ferdianto namanya. Mengapa? Entahlah, aku hanya berpikir bagaimana nasib dia di kawasan Monas saat ini. Sepertinya tak hanya aku yang -mungkin- sial tanggal 31 Desember 2007.

Singkat cerita Riki -pake Y (selanjutnya jadi Riky)- malam inisedang memantau suasana perayaan tahun baru di bundaran Monas. Tugas seperti ini bukan hal baru bagi kami sebagai awak Pabrik. Yang jadi spesial, Riky sebenarnya tak berkewajiban meliput perayaan -yang entah benar atau tidak dimeriahkan oleh band Ungu (baca: biar ungu?)- tersebut. Itu harusnya tugas awal lain yang mendapat jatah piket malam. Kemana awak itu? Sudah dirolling ke kompartemen lain.

So…Riky yang memang dikenal baik hati (karena suka memberi sebatang-dua batang rokok), filosofis, dan serba putis, menerima penugasan -bagiku seharusnya penawaran- dari sang redaktur untuk mengisi reporter piket malam.

Gilanya lagi, tawaran itu diterima justru ketika dia piket pagi hari ini. Artinya, bekerjalah dia (mungkin lebih) 18 jam akhir tahun 2007. Sambil tertawa kuucapkan selamat Sofyan -awak Pabrik lain yang menerima tawaran serupa sebelumnya, tapi berani menolaknya.

Dan sekarang bagaimana Riky? Entah bagaimana nasibmu wahai kawan di sana…

Polosnya (atau dedikasi) Riky tak kali ini saja tampak. Ketika rekan jurnalis lain meloloskan diri dari tilangan Polisi dengan alasan pers dan liputan, Riky tidak. Dia rogoh kantongnya untuk penyelesaian -atau damai di tempat- hanya karena salah satu perangkat sepeda motornya tak berfungsi (seingatku lampu belakang tak menyala). Hilang sudah duit warna biru si Riky malam itu.

Ohh…Hujan sudah reda tampaknya. Atau hanya berhenti di langit Jakarta Selatan -atau mungkin hanya Kebayoran dan sekitarnya? Mudah-mudahan tepat pada saat pergantian tahun nanti (tiga jam dari saat ini) langit cerah. Tak pula harus ada kejadian yang harus merepotkan kerja aparat dan apalagi jurnalis. SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA!

salam hangat

tJokrosasmito

31 Desember 2007 Ditulis oleh tjokrosasmito | universal | | & Komentar

kisah yudono

Ada seorang yang cukup senior di kantor, namanya Yudono. Suatu hari bapak itu berkesempatan mencicipi kesempatan langka untuk berkunjung ke tanah Britania Raya.

Sesampainya di hotel, ia memesan kamar. Petugas Front Office kemudian bertanya, “Excuse me sir, can I have your first name please?”

“Yudono,” jawabnya.

Si petugas mengernyitkan dahi. “Pardon, what’s your first name again?”

“Yudono!” lebih keras dijawabnya.

“Of course I don’t know, that’s why I asked you! Now tell me your first name,” kata si petugas tak kalah ngotot.

“Yudono!!!”

ihihihi udah tahu lah terusannya…

31 Desember 2007 Ditulis oleh 8zone | universal | | No Comments Yet

yaiks! kepergok pas lagi ngeblog …

Pas buka wordpress ini, tiba-tiba bos lewat. “Wah bagus, kamu ngeblog, bagus itu!”Buka blog pas jam kerja dibilang bagus? Kebetulan memang si bos itu salah satu dedengkot komunitas ngeblog di Indonesia. Dia punya kolom khusus di koran yang membahas soal aktivitas ngeblog.

Blognya juga masuk 100 blog keren dan banyak dikunjungi yang dibikin blog Indonesia Matters. Yang kata dia, jumlah kunjungan blog enggak terlalu penting ketimbang si pemilik mau mengeksplorasi hobi ngeblog to the next level.

Mungkin di tempat lain akan dihajar kalau kerja sambil ngeblog. Ya itulah, mau gaji super tinggi atau atmosfir bekerja yang demokratis? Pilihan yang sulit dan semua orang pasti berharap dua-duanya. Dream on baby!

otaku

28 Desember 2007 Ditulis oleh 8zone | universal | , | & Komentar

Pertama

Hai.

Inilah blog yang mungkin akan berisi tulisan-tulisan kami. Mungkin kami bercerita soal kegiatan sehari-hari, yang bisa jadi tak penting. Atau sebaliknya, penting untuk batasan tertentu.

Mungkin kami hanya menulis racauan, curahan hati dan opini pribadi. Atau mungkin juga kami menulis hal-hal yang selama ini tak terungkap. Tetek bengek kecil hingga rahasia besar.

Siapakah kami? Kami buruh pabrik. Kami hanyalah sekrup dan baut dari sebuah mesin besar. Kami eksis karena kami menulis. Tapi terlebih lagi, kami eksis karena tulisan kami dibaca atau terbaca.

24 Desember 2007 Ditulis oleh admin | universal | | & Komentar