Tempat

Cerita Dari Dalam

Tempe, enak dibacem dan perlu, tahu!

Gua pikir si tukang sayur lagi ndagel waktu dia mengultimatum bahwa senin (hari ini, 14/1) tidak ada tempe dan tahu. Bisa saja itu akal-akalan dia aja gara-gara banyak diutangin apalagi belakangan banyak cerita harga keledai eh kedelai naik.

Cerita soal tempe-tahu ini memang dihembuskan rapi sekali. Awal pekan lalu hanya ada satu berita kecil di televisi soal keluhan pengusaha tahu di Jawa. Beberapa hari kemudian cerita soal pengusaha tempe dan tahu di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi mulai gantung (gantung apa ya?) karena harga kacang kedelai sudah kelewat tinggi.

Pengusaha pabrik tempe dan tahu akhirnya harus belajar meniru pejabat pimpro di departemen. Tahunya tetap sama tapi spesifikasinya dimodifikasi. Tahu dibuat lebih tipis tapi ukuran potongan agak ditambah supaya kelihatannya tetap besar sementara harganya didongkrak naik. Hari ini koperasi pengusaha tempe dan tahu unjuk rasa di depan istana Presiden SBY yang kabarnya gemar makan tahu itu.

Gua harus menyatakan salut dengan korlip stasiun televisi swasta di kebon jeruk yang menyuruh reporternya masuk ke pasar (yang gua kenal betul lokasi pasar itu ada di Tanjung Duren tempat dulu mengejar tukang ayam potong dan menanyakan soal flu burung). Reporter itu pulang membawa berita yang bagus, pedagang tahu di pasar itu tida berjualan. Bukan karena tidak ada tahu yang bisa dijual atau bermental tempe sehingga takut makanan olahan dari kedelai itu terlalu mahal untuk dibeli. Melainkan sebuah edaran dari pengurus koperasi memerintahkan mereka tidak berjualan selama tiga hari atau jualan mereka akan disita ditambah denda, busyet, SATU JUTA RUPIAH!

Jadi si yanto tukang sayur yang setiap pagi lewat di depan rumah itu bukannya malas bawa tempe, tapi dia tahu tukang tahu tidak akan jualan karena koperasi pengusaha tahu mau mogok jualan. Anehnya kok tahu-tahu tuntutan pengusaha tahu ini minta impor kedelai kembali dijalankan oleh Bulog bukan oleh perusahaan swasta. Biasanya tuntutan kan cukup pemerintah memperhatikan suplai dan mengontrol harga kedelai karena pemerintah bukan keledai yang membiarkan begitu saja ada yang mencari keuntungan dengan memainkan harga kedelai.

Tempe dan tahu dulunya identik dengan makanan di kala bokek. Kalau tempe dan tahu jadi mahal, lantas kalau kantong lagi kosong mau makan apa? Kenapa ketika tempe langka ketika mantan presiden yang dulu memuja tempe sedang sakit. Pertanda apa ini?

14 Januari 2008 Ditulis oleh 8zone | ekbis | , | 2 Tanggapan

Modus Baru Berkorupsi Ria

Sedikit mo cerita nih, pejabat publik maupun para wakil rakyat di Indonesia tampaknya mulai lihai memanfaatkan berbagai celah untuk berkorupsi ria. Tren terbaru yang mereka pakai untuk memperkaya diri adalah melalui mekanisme pasar keuangan. Para pejabat publik banyak yang memanfaatkan margin perdagangan di bursa saham maupun valas. Lho salahnya dimana?

Secara kasat mata tidak ada kesalahan dan sulit membuktikan adanya unsur korupsi dan pencucian uang melalui cara itu karena uang yang digunakan “halal” dan tekniknya pun “bersih” yaitu menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU) yang disimpan di masing-masing Bank Pembangunan Daerah untuk di investasikan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) maupun pasar modal.

Mari kita lihat cara kerjanya, Kepala daerah dan direktur utama BPD berkompromi menggunakan sementara dana alokasi umum untuk di investasikan sebelum dipakai. Selain ke SBI, BPD menanamkan dananya di pasar modal melalui sekuritas. Keuntungan yang didapat melalui perdagangan saham di pasar modal itu kemudian dibagi dua antara kepala daerah dengan pimpinan BPD sesuai perjanjian awal.

Menjelang akhir tahun, dana yang sebelumnya di investasikan itu kemudian dikembalikan lagi ke rekening pemda karena harus digunakan untuk kepentingan pembangunan wilayahnya masing-masing untuk membuat laporan penyerapan anggaran. Itulah sebabnya mengapa penyerapan anggaran daerah baru tampak besar pada akhir tahun.

Jadi, itu korupsi bukan?

28 Desember 2007 Ditulis oleh eckonop | ekbis | , | 4 Tanggapan