Tempat

Cerita Dari Dalam

Menunggu Kematian

Lantai dua sebuah ruko di ujung aspal di Jakarta tiba-tiba sunyi senyap. Satu-dua pasang mata orang di dalamnya terus memelototi layar monitor di hadapannya. Hampir tak ada suara, kecuali suara ketikan komputer dan mouse yang bergerak-gerak. Kecuali juga satu topik pertanyaan: soal kabar dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, tempat Soeharto dirawat.

Tak seberapa lama tadi kondisi berbeda terasa. Suara demi suara terdengar, paling tidak bisikan dari ujung lantai itu sampai juga ke telinga ujung lainnya. Beberapa orang berdiri dari tempat duduknya. Beberapa lainnya hilir mudik naik-turun dari lantai dua dan tiga. Terasa sekali ada kesibukan yang dipaksakan. Satu saja yang sama dari tadi dan sekarang, jarum detik jam dinding melambat sejenak, berbeda dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

Ya, Soeharto mati! Begitu kata angin, yang membawa kabar –dengan kata lebih lembut didengar– kabar tutup usianya penguasa 32 tahun Orde Baru ini, hingga perlahan masuk ke tiap-tiap telinga yang ada di kantor malam itu.

Dua repoter piket malam dan reporter lain yang belum juga balik ke peraduan tampak siaga satu. Belakangan, sedikitnya delapan reporter menginap di kantor menunggu perkembangan. Srena, asisten redaktur, tak henti-henti mengalihkan telepon genggam dari daun telinganya. Dengan satu kaki ditongkrongkan di atas kursi, mata memelototi layar komputer, mulutnya komat-kamit berbincang pelan kepada seseorang di sana, seorang kawan reporter yang memantau langsung kondisi di rumah sakit.

Seseorang di di sebelah kiri si asisten juga tak kalah sibuk. Meski tak setegang Srena, dia mulai mengamati kondisi. Bos-bos, mulai turun dari kantornya di lantai tiga. Di luar, mobil Kijang milik Big Boss, berbelok tajam menyusuri pinggiran ruko dan parkir sekenanya di depan kantor.

Turunnya beberapa awak redaksi ke lantai dua bukan berarti lantai tiga tak ikut bersemarak atas kabar itu. Mata orang bahasa–begitu kami menyebut pada editor bahasa–sesekali menatap layar televisi. Dua televisi plasma di sudut-sudut lantai itu terus-menerus diisi kabar terbaru Soeharto.

Ruang juru foto, juga tak kalah sibuk. Bos foto, masuk ke ruang pojok lantai dua dan mulai melantangkan komando. Setelah memastikan satu awaknya telah siap memantau rumah sakit, perjalanan dinas untuk seorang fotografer pun digarap kilat untuk seorang fotografer. Tujuannya, tentu saja Dalem Kalitan, tempat persemayaman Tien Soeharto sebelas tahun lalu.

Karena perintah turun mendadak, tak ada satu pun tiket pesawat bisa dipesan malam itu. Karena mendadak pula, seorang staf sekretaris redaksi urung pulang dan mengurus uang talangan perjalanan dinas.

Jika memang benar Pak Harto tutup usia, malam ini tentu haram ditinggalkan. Kepanikan serupa telah kujumpai sepekan lalu di Headquarter di bilangan Jakarta Pusat. Ketika itu, Soeharto pertama atau bahkan lagi-lagi masuk rumah sakit. Semua media –baik cetak maupun elektronik– langsung menyorot kesehatan Soeharto, entah menunggu si Eyang membaik atau justru pertanyaan yang menjadi penting: Kapan mati?

Kematian seperti menjadi sangat penting jika dikaitkan Presiden yang lengser hampir 11 tahun silan oleh Gerakan Reformasi itu. Kematiannya menjadi tak tabu dibicarakan. Masuk-keluar dan masuk lagi-keluar lagi pria kelahiran Kemusuk Argamulya Yogyakarta 86 tahun silam itu dari RSPP Pertamina bukan lagi berita baru. Yang ditunggu memang tinggal kapan semua itu berita serupa berhenti.

Bos kompartemen nasional mengatakan kematian Soeharto adalah titik sejarah. “Dan sebagai wartawan, kita harus berada di titik itu,” katanya malam itu. Kapan lagi kematian begitu penting untuk didengar?
Dan sepertinya, malaikat pencabut nyawa masih enggan membelai rambut sang Eyang, setidaknya hingga pagi ini.

tjokrosasmito
diedit Dewan Etika

12 Januari 2008 Ditulis oleh tjokrosasmito | opini, peristiwa, universal | | No Comments Yet

pake Y?

Ingin menulis saja. Hati sedang kesal. Malam tahun baru, hendak berkunjung ke rumah yang terkasih, tapi hujan mengguyur Jakarta Selatan -atau mungkin hanya Kebayoran dan sekitarnya?

Kesal bukan karena hujan menghambatku beranjak dari kamar berukuran 4×3 meter di tepian Jalan Cipulir, tapi -lebih lagi- malah tetes air dari surga itu sudah kadung membasahi bajuku. Ya, melihat mendung mulai pekat dan kemerah-merahan, kunyalakan motorku menerjang gerimis kecil yang ternyata berubah deras sekali hanya berjarak satu kilometer dari kosanku.

Ohh..andai saja tadi aku cabut sedari awal. Padahal aku berharap akhir tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Aku ingat, 31 Desember 2006 pukul 00:00 WIB, kuberdiri di antara puluhan wartawan media cetak dan elektronik di Gerbang Tol Cililitan menyaksikan Menteri Negera BUMN Sugiharto dan Direktur Utama Jasa Marga Franz Sunito memberikan bingkisan tahun baru pengguna jalan tol.
Dan kini aku di sini. Belum juga menemui yang terkasih. Malah membenamkan diri di depan komputer kantor yang tampak mewah di antara serakan kertas dokumen-dokumen kerja. Hampir separuh bagian baju dan celanaku basah. Sial, rokok pun habis dan si Untung (pemilik warung ‘Sagala Aya?’ depan kantor) sudah menutup rombong kecilnya rapat-rapat.

Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin kuceritakan saat ini. Tapi tak juga tanpa kaitan. Hujan pada penghujung 2007, kuteringat seorang rekan kerja, Riki Ferdianto namanya. Mengapa? Entahlah, aku hanya berpikir bagaimana nasib dia di kawasan Monas saat ini. Sepertinya tak hanya aku yang -mungkin- sial tanggal 31 Desember 2007.

Singkat cerita Riki -pake Y (selanjutnya jadi Riky)- malam inisedang memantau suasana perayaan tahun baru di bundaran Monas. Tugas seperti ini bukan hal baru bagi kami sebagai awak Pabrik. Yang jadi spesial, Riky sebenarnya tak berkewajiban meliput perayaan -yang entah benar atau tidak dimeriahkan oleh band Ungu (baca: biar ungu?)- tersebut. Itu harusnya tugas awal lain yang mendapat jatah piket malam. Kemana awak itu? Sudah dirolling ke kompartemen lain.

So…Riky yang memang dikenal baik hati (karena suka memberi sebatang-dua batang rokok), filosofis, dan serba putis, menerima penugasan -bagiku seharusnya penawaran- dari sang redaktur untuk mengisi reporter piket malam.

Gilanya lagi, tawaran itu diterima justru ketika dia piket pagi hari ini. Artinya, bekerjalah dia (mungkin lebih) 18 jam akhir tahun 2007. Sambil tertawa kuucapkan selamat Sofyan -awak Pabrik lain yang menerima tawaran serupa sebelumnya, tapi berani menolaknya.

Dan sekarang bagaimana Riky? Entah bagaimana nasibmu wahai kawan di sana…

Polosnya (atau dedikasi) Riky tak kali ini saja tampak. Ketika rekan jurnalis lain meloloskan diri dari tilangan Polisi dengan alasan pers dan liputan, Riky tidak. Dia rogoh kantongnya untuk penyelesaian -atau damai di tempat- hanya karena salah satu perangkat sepeda motornya tak berfungsi (seingatku lampu belakang tak menyala). Hilang sudah duit warna biru si Riky malam itu.

Ohh…Hujan sudah reda tampaknya. Atau hanya berhenti di langit Jakarta Selatan -atau mungkin hanya Kebayoran dan sekitarnya? Mudah-mudahan tepat pada saat pergantian tahun nanti (tiga jam dari saat ini) langit cerah. Tak pula harus ada kejadian yang harus merepotkan kerja aparat dan apalagi jurnalis. SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA!

salam hangat

tJokrosasmito

31 Desember 2007 Ditulis oleh tjokrosasmito | universal | | & Komentar