Tempat

Cerita Dari Dalam

Rezim Kekerasan Kembali

Rezim SBY menunjukkan watak aslinya. Suara protes dibungkam dengan kekerasan, layaknya apa yang terjadi pada masa orde baru.

SBY, yang katanya, tidak akan menaikkan harga BBM, harus menjilat ludahnya sendiri. Dugaan bahwa ia lebih tunduk pada modal asing dan kapitalisme menyeruak. Segala alasan akademis dan ekonomis dikeluarkan para pejabat berserta gerbongnya.

Ketika rakyat menyuarakan penolakan, kekuasaan gerah. Dengan cara-cara ter’halus’, aparat membubarkan aksi. Api kekerasan kembali nyala, layaknya api tersiram bensin. Bahkan peluru sudah menggantikan secuil daging di tubuh rakyat.

Rezim menyuap 100 rb per keluarga sebagai gantinya. Padahal pemerintah sendiri tidak siap; data pusat dan daerah tidak sinkron. Di sini terlihat watak asli rezim lainnya; masih sentralistik. Kalau daerah belum siap, kenapa harus dipaksakan?

Dari semua itu, yang paling menggemaskan adalah cara-cara represif aparat menanggapi pernyampaian aspirasi, yang kebetulan berbeda dengan pemerintah. Reaksi penolakan kenaikan BBM, di berbagai tempat nusantara, segera mendapat ‘respon’. Menangkapi demonstran, memukul secara colongan, bahkan menyiksa ketika di tahanan, menjadi cerita usang yang kembali naik daun.

24 Mei 2008 Ditulis oleh anipar14th | opini | | 3 Tanggapan

Rezim Kekerasan Kembali

Rezim SBY menunjukkan watak aslinya. Suara protes dibungkam dengan kekerasan, layaknya apa yang terjadi pada masa orde baru.

SBY, yang katanya, tidak akan menaikkan harga BBM, harus menjilat ludahnya sendiri. Dugaan bahwa ia lebih tunduk pada modal asing dan kapitalisme menyeruak. Segala alasan akademis dan ekonomis dikeluarkan para pejabat berserta gerbongnya.

Ketika rakyat menyuarakan penolakan, kekuasaan gerah. Dengan cara-cara ter’halus’, aparat membubarkan aksi. Api kekerasan kembali nyala, layaknya api tersiram bensin. Bahkan peluru sudah menggantikan secuil daging di tubuh rakyat.

Rezim menyuap 100 rb per keluarga sebagai gantinya. Padahal pemerintah sendiri tidak siap; data pusat dan daerah tidak sinkron. Di sini terlihat watak asli rezim lainnya; masih sentralistik. Kalau daerah belum siap, kenapa harus dipaksakan?

Dari semua itu, yang paling menggemaskan adalah cara-cara represif aparat menanggapi pernyampaian aspirasi, yang kebetulan berbeda dengan pemerintah. Reaksi penolakan kenaikan BBM, di berbagai tempat nusantara, segera mendapat ‘respon’. Menangkapi demonstran, memukul secara colongan, bahkan menyiksa ketika di tahanan, menjadi cerita usang yang kembali naik daun.

24 Mei 2008 Ditulis oleh anipar14th | universal | | Belum Ada Tanggapan