Tempat

Cerita Dari Dalam

Kriuuukkk.

Kuambil satu kotak putih paling atas yang ditumpuk bersama kotak lainnya, disusun rapih diikat dengan tali rafia abu-abu. Berjajar empat baris keatas dan lima baris kebelakang. Kuletakkan kotak yang kuambil di satu sisi meja yang kosong. Kutahan nafasku beberapa detik membayangkan akan melihat sesuatu yang menggiurkan berkelebat dimataku. Kututup mataku sekejap menghimpun sugesti, kubayangkan warna-warna yang indah, hijau terang, kuning terang, biru laut, merah muda, warna-warna yang selalu membangkitkan seleraku. Memberikanku semangat, seberapapun buruknya hidup selalu ada yang bisa disyukuri.

Kuhembuskan perlahan-lahan nafasku. Kulihat perjalanan hari ini. Pukul 8 pagi, matahari mulai naik tapi kesejukan udara pagi masih terasa. Motor Yamaha Mio merahku, kubawa keluar melewati pintu gerbang. Kutarik gas perlahan sambil menikmati udara segar yang dalam hitungan menit pasti akan habis saat aku keluar dari komplek rumahku. Kubuka kaca helm dan kukendorkan maskerku supaya bisa kuhirup udara pagi Jakarta yang semakin langka.

Tiinnnn.. suara klakson motor dibelakangku membuyarkan kenikmatanku. Aku sudah ada diujung jalan raya, hiruk pikuk kendaraan bermotor sudah didepanku. Kurapatkan masker wajah, dan kututup helm. Kupacu motorku semakin kencang hingga 80 kilometer per jam. Baru satu kilometer, kecepatan terpaksa kukurangi hingga kurang dari 10 kilometer per jam. Realita yang tidak pernah habis, kemacetan yang semakin parah dari hari ke hari tanpa solusi yang berarti.

Keringat mulai mengucur dibalik jaket biruku. Kukeraskan volume MP3 playerku. Menjerit-jerit suara Avril Lavigne ditelingaku, bersaing dengan deruan motor. I am young and I am free, but I get tired and I get weak, I get lost and I cant sleep. But Suddenly, suddenly..

Fiuhh.. sampai juga di Departemen Kesehatan, posku selama tiga bulan terakhir. Jam tanganku menunjukkan pukul 9.15, masih ada 15 menit sebelum Menkes melantik eselon satu dan dua. Kupesan satu teh botol paling dingin untuk melegakan tenggorokanku setelah melakukan ’sauna’ 1 jam 15 menit di jalan Raya Buncit yang tidak pernah lengang kecuali tengah malam dan lebaran.

Sampai dilantai dua gedung Depkes yang berada di jalan Rasuna Said, aku langsung masuk aula. Kuikuti acara pelantikan yang diisi dengan pidato menteri. Acara berakhir pukul 1 siang. Dengan komunikator cicilan kantor kukirim dua berita soal asuransi kesehatan dan obat generik. Perutku mulai merasa lapar, tapi masih ada satu acara lagi yang harus diliput. Diskusi soal AIDS pukul 14.00 di daerah jalan Sudirman.

Tidak ada makan siang, ya sudahlah makan dikantor saja. Pukul 4.30 acara selesai, perutku sudah mulai teriak nih, sepertinya maagku bakalan kambuh kalau tidak segera makan. Kupacu motorku menuju kantor, kalau enggak macet sepuluh menit saja. Tapi jam pulang kantor mana ada yang enggak macet, meski sudah 3 in 1, jalanan lengang hanya kayalan.

Hoshh.. sampai juga dikantor Velbak, kuletakkan helm dipos, sambil kuatur nafasku setelah menahan nafas ditengah deru knalpot metromini 69 Blok M – Cileduk. “Dapat berita apa?” redakturku menyapa riang, berharap dapat oleh-oleh berita bagus. “Ntar ya Mas, makan dulu, laper nih.” . Cepetan ya.., berita asuransi head line ya, trus masih ada yang harus kamu lengkapi nih.

Kunyalakan komputer dimejaku, sambil cepat-cepat kulepas jaket dan sepatuku, rasanya badanku sudah pengap semua. Seandainya kantor ini hanya berisi kaum hawa, pasti sudah ikut lepas kemajaku dan hanya pakai tanktop.

Kulangkahkan kakiku menuju meja tengah, tumpukan kotak putih sudah dijajar rapih. Kututup mataku tiga detik, kuhirup nafasku dalam-dalam dan kulepaskan pelan-pelan. Mulai kubuka tutup kotak putih, kukeluarkan sepotong melon dan kerupuk. Terakhir kubuka plastik penutupnya. Ahhhh.. Pleasee… aku hanya bisa menelan ludah yang sudah mulai kering.

Tahu goreng tepung kuning pucat yang sudah dingin dan setengah terendam minyak. Sepotong ikan gulai, hmfff.. agak bau dan lembek. Sayur orak arik buncis dan wortel diserut tipis, pahit. Kuambil sepotong melonnya, satu-satunya yang bisa kumakan dan kubanting tutup putihnya keatas kotak yang sudah kubuka. Kriukkkk.. perutku benar-benar teriak kali ini.

18 Maret 2008 Ditulis oleh qkid | universal | | & Komentar