Saya tak tahu berapa banyak publik yang sakit hati terhadap Soeharto. Seorang kawan di Priok, konon, pernah menyaksikan tragedi Tanjung Priok. Ia, yang malam itu mengintip dari balik horden, menyaksikan sejumlah truk menggilas puluhan tubuh yang terkapar di aspal. “Setelah itu mobil pemadam datang, menyemprotkan air ke jalan untuk membersihkan sisa darah,” katanya.
Saya juga pernah dengar kebiadaban lain. Bertahun-tahun lalu, ketika asik menyusuri jalan ditepi sawah di kampung, kakek saya mengatakan, “Dulu, waktu penumpasan PKI, orang-orang dibariskan di sepanjang jalan ini. Mereka disuruh jongkok. Setelah itu tentara menembak kepala mereka, satu per satu.”
Tubuh-tubuh tanpa nyawa itu kemudian dilempar ke parit di sepanjang jalan lalu ditimbun begitu saja. “Ini jadi kuburan terpanjang disini,” katanya. Banyak lagi kisah lain. Saya tak yakin betul kebenaran cerita-cerita tersebut.
Masa pemerintahan Soeharto barangkali memang dipenuhi bercak darah. Orang-orang yang darahnya dimuncratkan itu, barangkali memang layak bertanya, “Kapan Mati?”
Barisan orang yang sakit hati terhadap Soeharto, yang Bapaknya dihilangkan, yang hidupnya terenggut, yang dilempar ke penjara tanpa kesalahan, sudah pasti geram melihat hukum tak pernah berhasil menjeratnya. Tapi di alam nanti, setelah kematiannya, Soeharto akan menjalani babak baru: pengadilan Tuhan sudah menunggu disana.
Jadi, ‘Kapan Mati?’
Tanyakan saja kepada Sang Pengecat lombok bin cabe rawit.
Pertanyaannya memang terdengar : KEJAM!. Tapi ya membaca apa -apa saja yang sudah dilakukan oleh keluarga mereka. Mungkin Cendana itu sudah banjir darah, seperti apa yang pernah terjadi dulu waktu perang salib, darah membajiri sampai lutut orang dewasa. Mengerikan sekali kalau kekuasaan dan uang benar-benar diukur dengan korban yang dihasilkan.
Memang hukum benar-benar tidak bisa banyak bicara. Satu-satunya yang diharapkan hanyalah pengadilan Tuhan.
Melihat begitu banyak sudah wartawan yang berkumpul di astana giri bangun, hal itu seolah-olah seperti memanjatkan doa, agar malaikat maut segera datang menjemput.
Dunia itu kejam, Jendral!
Tapi hati nurani kita, harusnya bicara. Masih adakah sedikit rasa kemanusiaan dan sedikit kata maaf untuk beliau. Seperti SBY bilang, “tidak tepat jika sekarang ini membicarakan kasus hukum Soeharto…”
Ya… semoga semuanya diberikan yang terbaik oleh Sang Maha!
saya sudah bosan hidup!!
saya ingin tau kapan saya mati?karena saya ingin cepat-cepat mati