Tempat

Cerita Dari Dalam

Kapan Mati?

Pertanyaan itu lazim terdengar belakangan ini untuk Mantan Presiden Soeharto. Sebuah pertanyaan yang tak etis sebenarnya. Tapi karena Soeharto dianggap sudah sedemikian bejatnya, pertanyaan itu jadi agak wajar.Saya membayangkan bagaimana jika pertanyaan itu sampai terdengar keluarga Pak Harto. Kecewa, marah, sedih, bercampur satu. Tapi apa boleh buat? Publik terlanjur menempatkan Soeharto sebagai tersangka.

Saya tak tahu berapa banyak publik yang sakit hati terhadap Soeharto. Seorang kawan di Priok, konon, pernah menyaksikan tragedi Tanjung Priok. Ia, yang malam itu mengintip dari balik horden, menyaksikan sejumlah truk menggilas puluhan tubuh yang terkapar di aspal. “Setelah itu mobil pemadam datang, menyemprotkan air ke jalan untuk membersihkan sisa darah,” katanya.

Saya juga pernah dengar kebiadaban lain. Bertahun-tahun lalu, ketika asik menyusuri jalan ditepi sawah di kampung, kakek saya mengatakan, “Dulu, waktu penumpasan PKI, orang-orang dibariskan di sepanjang jalan ini. Mereka disuruh jongkok. Setelah itu tentara menembak kepala mereka, satu per satu.”

Tubuh-tubuh tanpa nyawa itu kemudian dilempar ke parit di sepanjang jalan lalu ditimbun begitu saja. “Ini jadi kuburan terpanjang disini,” katanya. Banyak lagi kisah lain. Saya tak yakin betul kebenaran cerita-cerita tersebut.

Masa pemerintahan Soeharto barangkali memang dipenuhi bercak darah. Orang-orang yang darahnya dimuncratkan itu, barangkali memang layak bertanya, “Kapan Mati?”

Barisan orang yang sakit hati terhadap Soeharto, yang Bapaknya dihilangkan, yang hidupnya terenggut, yang dilempar ke penjara tanpa kesalahan, sudah pasti geram melihat hukum tak pernah berhasil menjeratnya. Tapi di alam nanti, setelah kematiannya, Soeharto akan menjalani babak baru: pengadilan Tuhan sudah menunggu disana.

Jadi, ‘Kapan Mati?’

12 Januari 2008 Ditulis oleh agustiar | opini, peristiwa | , , | & Komentar

Menunggu Kematian

Lantai dua sebuah ruko di ujung aspal di Jakarta tiba-tiba sunyi senyap. Satu-dua pasang mata orang di dalamnya terus memelototi layar monitor di hadapannya. Hampir tak ada suara, kecuali suara ketikan komputer dan mouse yang bergerak-gerak. Kecuali juga satu topik pertanyaan: soal kabar dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, tempat Soeharto dirawat.

Tak seberapa lama tadi kondisi berbeda terasa. Suara demi suara terdengar, paling tidak bisikan dari ujung lantai itu sampai juga ke telinga ujung lainnya. Beberapa orang berdiri dari tempat duduknya. Beberapa lainnya hilir mudik naik-turun dari lantai dua dan tiga. Terasa sekali ada kesibukan yang dipaksakan. Satu saja yang sama dari tadi dan sekarang, jarum detik jam dinding melambat sejenak, berbeda dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

Ya, Soeharto mati! Begitu kata angin, yang membawa kabar –dengan kata lebih lembut didengar– kabar tutup usianya penguasa 32 tahun Orde Baru ini, hingga perlahan masuk ke tiap-tiap telinga yang ada di kantor malam itu.

Dua repoter piket malam dan reporter lain yang belum juga balik ke peraduan tampak siaga satu. Belakangan, sedikitnya delapan reporter menginap di kantor menunggu perkembangan. Srena, asisten redaktur, tak henti-henti mengalihkan telepon genggam dari daun telinganya. Dengan satu kaki ditongkrongkan di atas kursi, mata memelototi layar komputer, mulutnya komat-kamit berbincang pelan kepada seseorang di sana, seorang kawan reporter yang memantau langsung kondisi di rumah sakit.

Seseorang di di sebelah kiri si asisten juga tak kalah sibuk. Meski tak setegang Srena, dia mulai mengamati kondisi. Bos-bos, mulai turun dari kantornya di lantai tiga. Di luar, mobil Kijang milik Big Boss, berbelok tajam menyusuri pinggiran ruko dan parkir sekenanya di depan kantor.

Turunnya beberapa awak redaksi ke lantai dua bukan berarti lantai tiga tak ikut bersemarak atas kabar itu. Mata orang bahasa–begitu kami menyebut pada editor bahasa–sesekali menatap layar televisi. Dua televisi plasma di sudut-sudut lantai itu terus-menerus diisi kabar terbaru Soeharto.

Ruang juru foto, juga tak kalah sibuk. Bos foto, masuk ke ruang pojok lantai dua dan mulai melantangkan komando. Setelah memastikan satu awaknya telah siap memantau rumah sakit, perjalanan dinas untuk seorang fotografer pun digarap kilat untuk seorang fotografer. Tujuannya, tentu saja Dalem Kalitan, tempat persemayaman Tien Soeharto sebelas tahun lalu.

Karena perintah turun mendadak, tak ada satu pun tiket pesawat bisa dipesan malam itu. Karena mendadak pula, seorang staf sekretaris redaksi urung pulang dan mengurus uang talangan perjalanan dinas.

Jika memang benar Pak Harto tutup usia, malam ini tentu haram ditinggalkan. Kepanikan serupa telah kujumpai sepekan lalu di Headquarter di bilangan Jakarta Pusat. Ketika itu, Soeharto pertama atau bahkan lagi-lagi masuk rumah sakit. Semua media –baik cetak maupun elektronik– langsung menyorot kesehatan Soeharto, entah menunggu si Eyang membaik atau justru pertanyaan yang menjadi penting: Kapan mati?

Kematian seperti menjadi sangat penting jika dikaitkan Presiden yang lengser hampir 11 tahun silan oleh Gerakan Reformasi itu. Kematiannya menjadi tak tabu dibicarakan. Masuk-keluar dan masuk lagi-keluar lagi pria kelahiran Kemusuk Argamulya Yogyakarta 86 tahun silam itu dari RSPP Pertamina bukan lagi berita baru. Yang ditunggu memang tinggal kapan semua itu berita serupa berhenti.

Bos kompartemen nasional mengatakan kematian Soeharto adalah titik sejarah. “Dan sebagai wartawan, kita harus berada di titik itu,” katanya malam itu. Kapan lagi kematian begitu penting untuk didengar?
Dan sepertinya, malaikat pencabut nyawa masih enggan membelai rambut sang Eyang, setidaknya hingga pagi ini.

tjokrosasmito
diedit Dewan Etika

12 Januari 2008 Ditulis oleh tjokrosasmito | opini, peristiwa, universal | | No Comments Yet