pake Y?
Ingin menulis saja. Hati sedang kesal. Malam tahun baru, hendak berkunjung ke rumah yang terkasih, tapi hujan mengguyur Jakarta Selatan -atau mungkin hanya Kebayoran dan sekitarnya?
Kesal bukan karena hujan menghambatku beranjak dari kamar berukuran 4×3 meter di tepian Jalan Cipulir, tapi -lebih lagi- malah tetes air dari surga itu sudah kadung membasahi bajuku. Ya, melihat mendung mulai pekat dan kemerah-merahan, kunyalakan motorku menerjang gerimis kecil yang ternyata berubah deras sekali hanya berjarak satu kilometer dari kosanku.
Ohh..andai saja tadi aku cabut sedari awal. Padahal aku berharap akhir tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Aku ingat, 31 Desember 2006 pukul 00:00 WIB, kuberdiri di antara puluhan wartawan media cetak dan elektronik di Gerbang Tol Cililitan menyaksikan Menteri Negera BUMN Sugiharto dan Direktur Utama Jasa Marga Franz Sunito memberikan bingkisan tahun baru pengguna jalan tol.
Dan kini aku di sini. Belum juga menemui yang terkasih. Malah membenamkan diri di depan komputer kantor yang tampak mewah di antara serakan kertas dokumen-dokumen kerja. Hampir separuh bagian baju dan celanaku basah. Sial, rokok pun habis dan si Untung (pemilik warung ‘Sagala Aya?’ depan kantor) sudah menutup rombong kecilnya rapat-rapat.
Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin kuceritakan saat ini. Tapi tak juga tanpa kaitan. Hujan pada penghujung 2007, kuteringat seorang rekan kerja, Riki Ferdianto namanya. Mengapa? Entahlah, aku hanya berpikir bagaimana nasib dia di kawasan Monas saat ini. Sepertinya tak hanya aku yang -mungkin- sial tanggal 31 Desember 2007.
Singkat cerita Riki -pake Y (selanjutnya jadi Riky)- malam inisedang memantau suasana perayaan tahun baru di bundaran Monas. Tugas seperti ini bukan hal baru bagi kami sebagai awak Pabrik. Yang jadi spesial, Riky sebenarnya tak berkewajiban meliput perayaan -yang entah benar atau tidak dimeriahkan oleh band Ungu (baca: biar ungu?)- tersebut. Itu harusnya tugas awal lain yang mendapat jatah piket malam. Kemana awak itu? Sudah dirolling ke kompartemen lain.
So…Riky yang memang dikenal baik hati (karena suka memberi sebatang-dua batang rokok), filosofis, dan serba putis, menerima penugasan -bagiku seharusnya penawaran- dari sang redaktur untuk mengisi reporter piket malam.
Gilanya lagi, tawaran itu diterima justru ketika dia piket pagi hari ini. Artinya, bekerjalah dia (mungkin lebih) 18 jam akhir tahun 2007. Sambil tertawa kuucapkan selamat Sofyan -awak Pabrik lain yang menerima tawaran serupa sebelumnya, tapi berani menolaknya.
Dan sekarang bagaimana Riky? Entah bagaimana nasibmu wahai kawan di sana…
Polosnya (atau dedikasi) Riky tak kali ini saja tampak. Ketika rekan jurnalis lain meloloskan diri dari tilangan Polisi dengan alasan pers dan liputan, Riky tidak. Dia rogoh kantongnya untuk penyelesaian -atau damai di tempat- hanya karena salah satu perangkat sepeda motornya tak berfungsi (seingatku lampu belakang tak menyala). Hilang sudah duit warna biru si Riky malam itu.
Ohh…Hujan sudah reda tampaknya. Atau hanya berhenti di langit Jakarta Selatan -atau mungkin hanya Kebayoran dan sekitarnya? Mudah-mudahan tepat pada saat pergantian tahun nanti (tiga jam dari saat ini) langit cerah. Tak pula harus ada kejadian yang harus merepotkan kerja aparat dan apalagi jurnalis. SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA!
salam hangat
tJokrosasmito
Akhh…
Mengapa tahun baru dianggap terlalu berlebihan. Tak bedakah dengan pergantian malam yang biasanya?
Sama aja.
Jurnalis, hmmm…
Memang tak usah selalu mengeluarkan identitasnya demi sebuah kecurangan.
Karena itu, minta saja surat tilangnya…
Hahaha, bisa aja si Goeng.
Dedikasi teman kita yang satu itu memang top. Baguslah, setidaknya gue bisa sekali-kali buang bodi. Eh, boleh ya Ky?
Selamat Tahun Baru 2008! Semoga tahun ini lebih baik buat pabrik kita, juga buat diri kita masing-masing.
bertemu riky tadi pagi di tahun yang baru berganti ini…..
dia berbaju ROHMI..pakaian basahnya tergantung di samping monitor kompi pabrik!!..
dipergantian tahun ini kalah deh marsinah!! ama riky
sip!
selamattahunbaru!