DITOLAK!!!
Sebuah surat elektronik masuk malam ini. Lebih cepat dari yang diduga dan biasanya yang kelewat cepat begini bukanlah kabar yang baik.
Benar saja, surat itu berisi penolakan aplikasi kartu kredit yangt menurut petugas verifikasi data baru akan datang pekan depan. Menghela nafas sejenak saja mengingat ini bukan kejadian pertama kali.
Beberapa hari lalu saya mengisi formulir aplikasi kartu kredit secara online di situs Bang Siti (nama bank sengaja disamarkan meski Anda dan saya tahu nama sebenarnya dari bank yang berkantor di kawasan Jalan Sudirman ini). Bukan karena saya ingin jadi konsumtif atawa gila belanja, namun seorang redaktur menyarankan saya membuat kartu kredit yang dinilainya penting demi kelancaran pekerjaan.
Pertama, kartu kredit penting untuk kegiatan lobi. Kedua, liputan di luar negeri dimana pada banyak kesempatan bapak redaktur itu menjumpai hotel menolak uang tunai dan lebih memilih kartu kredit sebagai alat pembayaran. Intinya, kartu kredit penting buat kerja seorang pewarta.
Sialnya, saya yang tadinya optimistis harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kebutuhan kartu kredit itu tak bisa terpenuhi – yang saya yakin penolakannya justru karena saya seorang wartawan.
Saat mengisi formulir aplikasi saya agak ragu mengisi status pekerjaan saya sebagai wartawan, padahal saya sangat bangga dengan profesi yang mulia ini. Pasalnya, saya pun pernah ditolak sebuah perusahaan pembiayaan kredit sepeda motor yang mereknya sama dengan motornya Rossi.
Perusahaan pembiayaan itu berkelit licin bak belut, tapi pemilik dealer membisikkan kalau permohonan kredit saya ditolak karena saya seorang wartawan. Kala itu saya berang bukan main tapi kemarahan itu tak bisa mengubah keadaan.
Saya mengontak seorang kawan. “Kawan,” begitu sapa saya. “Mengapakah saya sulit mendapatkan kredit?”
“Kawan,” begitu balasnya ramah. “Wartawan memang termasuk daftar beresiko tinggi!” Kawan yang bekerja di perusahaan pembiayaan ini menjelaskan, kuli tinta masuk dalam gerombolan orang yang sebaiknya ditolak oleh perusahaan pemberi fasilitas kredit dan pembiayaan. Dalam komplotan ini termasuk juga polisi, tentara, jaksa, dan pengacara, yah… pokoknya mereka yang terlibat dalam sistem hukum dan pengabdian kepada masyarakat luas.
Saat membaca surat elektronik malam ini, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata setahun lewat dari peristiwa itu tak ada perubahan berarti di republik ini, saya tetap susah dapat kartu kredit.
Tapi kalau para pengutang BLBI saja tidak kenal menyerah, maka saya juga tak mau patah semangat, meski saya tidak akan sampai jualan permata atau buka bengkel segala. Siapa tahu, ya, siapa tahu saja penolakan aplikasi saya bukan karena profesi saya sebagai wartawan jadi masih ada bank lain yang mau menerima aplikasi kartu kredit saya.
Ah! Saya teringat lanjutan percakapan saya dengan kawan yang bekerja di perusahaan pembiayaan tadi.
Sambil mengernyit dahi saya bertanya padanya, “Kawan apa dahiku mengernyit?” Saya melihatnya mengangguk saat pertanyaan kedua saya meluncur, “Kenapa pengusaha yang kreditnya macet bisa dapat kredit terus? Bukannya resiko pengusaha bandit lebih tinggi daripada wartawan yang lulus persyaratannya dasar permohonan kredit seperti saya?”
Kawan itu tak menjawab. Tahu-tahu ia senyum dan berujar ia sudah mengambil resiko dengan meluluskan permohonan kredit motor saya. “Wartawan juga manusia seperti yang lain, yang punya kebutuhan,” ujarnya sambil tersenyum.
Belakangan senyumnya semakin merekah karena saya selalu bayar cicilan lebih cepat dari tenggat waktu dan belum pernah sekalipun menunggak. Kenapa? Karena saya wartawan yang patuh pada dateline, bukan pengutang kelas kakap yang menjelang dateline lari keluar negeri ihihihi….
Rezim Kekerasan Kembali
Rezim SBY menunjukkan watak aslinya. Suara protes dibungkam dengan kekerasan, layaknya apa yang terjadi pada masa orde baru.
SBY, yang katanya, tidak akan menaikkan harga BBM, harus menjilat ludahnya sendiri. Dugaan bahwa ia lebih tunduk pada modal asing dan kapitalisme menyeruak. Segala alasan akademis dan ekonomis dikeluarkan para pejabat berserta gerbongnya.
Ketika rakyat menyuarakan penolakan, kekuasaan gerah. Dengan cara-cara ter’halus’, aparat membubarkan aksi. Api kekerasan kembali nyala, layaknya api tersiram bensin. Bahkan peluru sudah menggantikan secuil daging di tubuh rakyat.
Rezim menyuap 100 rb per keluarga sebagai gantinya. Padahal pemerintah sendiri tidak siap; data pusat dan daerah tidak sinkron. Di sini terlihat watak asli rezim lainnya; masih sentralistik. Kalau daerah belum siap, kenapa harus dipaksakan?
Dari semua itu, yang paling menggemaskan adalah cara-cara represif aparat menanggapi pernyampaian aspirasi, yang kebetulan berbeda dengan pemerintah. Reaksi penolakan kenaikan BBM, di berbagai tempat nusantara, segera mendapat ‘respon’. Menangkapi demonstran, memukul secara colongan, bahkan menyiksa ketika di tahanan, menjadi cerita usang yang kembali naik daun.
Rezim Kekerasan Kembali
Rezim SBY menunjukkan watak aslinya. Suara protes dibungkam dengan kekerasan, layaknya apa yang terjadi pada masa orde baru.
SBY, yang katanya, tidak akan menaikkan harga BBM, harus menjilat ludahnya sendiri. Dugaan bahwa ia lebih tunduk pada modal asing dan kapitalisme menyeruak. Segala alasan akademis dan ekonomis dikeluarkan para pejabat berserta gerbongnya.
Ketika rakyat menyuarakan penolakan, kekuasaan gerah. Dengan cara-cara ter’halus’, aparat membubarkan aksi. Api kekerasan kembali nyala, layaknya api tersiram bensin. Bahkan peluru sudah menggantikan secuil daging di tubuh rakyat.
Rezim menyuap 100 rb per keluarga sebagai gantinya. Padahal pemerintah sendiri tidak siap; data pusat dan daerah tidak sinkron. Di sini terlihat watak asli rezim lainnya; masih sentralistik. Kalau daerah belum siap, kenapa harus dipaksakan?
Dari semua itu, yang paling menggemaskan adalah cara-cara represif aparat menanggapi pernyampaian aspirasi, yang kebetulan berbeda dengan pemerintah. Reaksi penolakan kenaikan BBM, di berbagai tempat nusantara, segera mendapat ‘respon’. Menangkapi demonstran, memukul secara colongan, bahkan menyiksa ketika di tahanan, menjadi cerita usang yang kembali naik daun.
Kriuuukkk.
Kuambil satu kotak putih paling atas yang ditumpuk bersama kotak lainnya, disusun rapih diikat dengan tali rafia abu-abu. Berjajar empat baris keatas dan lima baris kebelakang. Kuletakkan kotak yang kuambil di satu sisi meja yang kosong. Kutahan nafasku beberapa detik membayangkan akan melihat sesuatu yang menggiurkan berkelebat dimataku. Kututup mataku sekejap menghimpun sugesti, kubayangkan warna-warna yang indah, hijau terang, kuning terang, biru laut, merah muda, warna-warna yang selalu membangkitkan seleraku. Memberikanku semangat, seberapapun buruknya hidup selalu ada yang bisa disyukuri.
Kuhembuskan perlahan-lahan nafasku. Kulihat perjalanan hari ini. Pukul 8 pagi, matahari mulai naik tapi kesejukan udara pagi masih terasa. Motor Yamaha Mio merahku, kubawa keluar melewati pintu gerbang. Kutarik gas perlahan sambil menikmati udara segar yang dalam hitungan menit pasti akan habis saat aku keluar dari komplek rumahku. Kubuka kaca helm dan kukendorkan maskerku supaya bisa kuhirup udara pagi Jakarta yang semakin langka.
Tiinnnn.. suara klakson motor dibelakangku membuyarkan kenikmatanku. Aku sudah ada diujung jalan raya, hiruk pikuk kendaraan bermotor sudah didepanku. Kurapatkan masker wajah, dan kututup helm. Kupacu motorku semakin kencang hingga 80 kilometer per jam. Baru satu kilometer, kecepatan terpaksa kukurangi hingga kurang dari 10 kilometer per jam. Realita yang tidak pernah habis, kemacetan yang semakin parah dari hari ke hari tanpa solusi yang berarti.
Keringat mulai mengucur dibalik jaket biruku. Kukeraskan volume MP3 playerku. Menjerit-jerit suara Avril Lavigne ditelingaku, bersaing dengan deruan motor. I am young and I am free, but I get tired and I get weak, I get lost and I cant sleep. But Suddenly, suddenly..
Fiuhh.. sampai juga di Departemen Kesehatan, posku selama tiga bulan terakhir. Jam tanganku menunjukkan pukul 9.15, masih ada 15 menit sebelum Menkes melantik eselon satu dan dua. Kupesan satu teh botol paling dingin untuk melegakan tenggorokanku setelah melakukan ’sauna’ 1 jam 15 menit di jalan Raya Buncit yang tidak pernah lengang kecuali tengah malam dan lebaran.
Sampai dilantai dua gedung Depkes yang berada di jalan Rasuna Said, aku langsung masuk aula. Kuikuti acara pelantikan yang diisi dengan pidato menteri. Acara berakhir pukul 1 siang. Dengan komunikator cicilan kantor kukirim dua berita soal asuransi kesehatan dan obat generik. Perutku mulai merasa lapar, tapi masih ada satu acara lagi yang harus diliput. Diskusi soal AIDS pukul 14.00 di daerah jalan Sudirman.
Tidak ada makan siang, ya sudahlah makan dikantor saja. Pukul 4.30 acara selesai, perutku sudah mulai teriak nih, sepertinya maagku bakalan kambuh kalau tidak segera makan. Kupacu motorku menuju kantor, kalau enggak macet sepuluh menit saja. Tapi jam pulang kantor mana ada yang enggak macet, meski sudah 3 in 1, jalanan lengang hanya kayalan.
Hoshh.. sampai juga dikantor Velbak, kuletakkan helm dipos, sambil kuatur nafasku setelah menahan nafas ditengah deru knalpot metromini 69 Blok M – Cileduk. “Dapat berita apa?” redakturku menyapa riang, berharap dapat oleh-oleh berita bagus. “Ntar ya Mas, makan dulu, laper nih.” . Cepetan ya.., berita asuransi head line ya, trus masih ada yang harus kamu lengkapi nih.
Kunyalakan komputer dimejaku, sambil cepat-cepat kulepas jaket dan sepatuku, rasanya badanku sudah pengap semua. Seandainya kantor ini hanya berisi kaum hawa, pasti sudah ikut lepas kemajaku dan hanya pakai tanktop.
Kulangkahkan kakiku menuju meja tengah, tumpukan kotak putih sudah dijajar rapih. Kututup mataku tiga detik, kuhirup nafasku dalam-dalam dan kulepaskan pelan-pelan. Mulai kubuka tutup kotak putih, kukeluarkan sepotong melon dan kerupuk. Terakhir kubuka plastik penutupnya. Ahhhh.. Pleasee… aku hanya bisa menelan ludah yang sudah mulai kering.
Tahu goreng tepung kuning pucat yang sudah dingin dan setengah terendam minyak. Sepotong ikan gulai, hmfff.. agak bau dan lembek. Sayur orak arik buncis dan wortel diserut tipis, pahit. Kuambil sepotong melonnya, satu-satunya yang bisa kumakan dan kubanting tutup putihnya keatas kotak yang sudah kubuka. Kriukkkk.. perutku benar-benar teriak kali ini.
Ketika Lukisan Diparodikan
Sampul edisi khusus Tempo 4-10 Februari 2008, bertajuk “Setelah Dia Pergi”, telah memancing polemik. Beberapa kelompok datang ke kantor majalah itu di Jakarta, dan segera setelahnya, pemimpin redaksi merilis permintaan maaf. Ucapan maaf itu bahkan mendapat perhatian dari media asing.
Tak selesai di situ saja. Setelah Tempo meminta maaf pun, kantor mereka tetap dihujani protes. Kali ini datang dari pihak-pihak yang memandang Majalah Tempo tak perlu minta maaf. Sampul itu, menurut pihak-pihak ini, tak mencederai agama Kristen. Sebab, sampul edisi khusus Soeharto itu hanyalah tiruan sebuah lukisan.
Selain protes itu, ada pula sekelompok mahasiswa melaporkan Majalah Tempo ke Polda Metro Jaya. Alasannya, Tempo melanggar pidana penistaan agama. Di antara para pelapor ini, tak satupun yang datang ke kantor Jalan Proklamasi Jakarta Pusat, saat Tempo meminta maaf. Juru bicara para pelapor, bernama Marselinus Simarmata, tak tahu kisaran jumlah orang yang, menurutnya, ia wakili sebagai pelapor.
Tak jelas apakah para pelapor berinisiatif sendiri, atau ada pihak tertentu yang menyuruh. Seperti kita ketahui, Tempo tengah bersitegang dengan banyak pihak. Tapi membahas ini hanya akan memunculkan spekulasi yang membutuhkan banyak pengecekan fakta.
Kesakralan peristiwa Perjamuan Terakhir tentunya tak terbantahkan. Malam itu, sekitar dua milenium yang lalu, Yesus dan duabelas muridnya duduk bersama. Selanjutnya, menurut kepercayaan Kristen, Yesus disalib oleh penguasa.
Leonardo Da Vinci, sekitar 500 tahun lalu, melukis peristiwa itu. Dia menggambarkan Yesus duduk di tengah sebuah meja panjang, dengan 12 rasul duduk di kanan dan kirinya. Tak lazimnya sebuah makan malam, ketigabelas orang ini ada di hanya satu sisi meja. Para rasul digambarkan dalam kelompok tiga-tiga orang.
Bertahan berabad-abad, lukisan Da Vinci itu menginspirasi banyak orang. Desainer sampul Tempo hanyalah salah satunya (dengan “kanvas” yang unik).
Di situs ini, anda bisa melihat berbagai parodi lukisan The Last Supper karya Da Vinci. Tak jelas, apakah para pelapor Tempo ke polisi itu akan melaporkan juga para seniman lain ini.
Di situs tersebut, anda bisa melihat parodi The Last Supper versi Mickey Mouse, The Simpsons, Superman, Sesame Street, Star Wars, tokoh Nintendo, Popeye, Marylin Monroe, hingga iPhone!
Untungnya, para seniman itu tak tinggal di Indonesia. Tak ada yang melaporkan mereka ke polisi sini.
Kedelai Tempe Tahu vs Mahasiswa Keledai
5000 pengerajin tempe tahu se Jabodetabek berdemo didepan istana presiden. Tempe tahu menghilang dari pasar, tukang sayur keliling, warteg, hingga meja makan. Mereka menjerit, berteriak : harga kedelai melambung tinggi. Dari 3000 per kg pada Agustus tahun lalu menjadi 7500 per kg selepas idul fitri.
Kedelai langka dipasar. Sesuai dengan hukum ekonomi tentunya, harga meroket. Di negeri Abang Sam, kedelai dijadikan bahan baku untuk bio fuel. Bukan untuk konsumsi manusia, tapi mesin-mesin.
Lucu! Makanan yang dianggap “merakyat” justru bahan bakunya impor. Wah. Mewah juga makanan rakyat Indonesia, tempe tahu “aslinya” dari luar negeri. Dari Amerika pula. Selucu kita mengimpor beras, padahal nasi adalah makanan pokok bangsa kita, yang serasa belum makan kalau belum melahap nasi.
Sebenarnya ini kesempatan. Ini saatnya petani menanam padi dan kedelai. Kapan lagi petani bisa merasakan harga yang tinggi. Namun, pemerintah toh bereaksi lain. Pemerintah akan mengimpor beras dan kedelai setiap kali harga melambung. Bukannya memperkuat produksi dalam negeri. Ya, memang demi stabilitas politik dan keamanan di kota, petani harus dikorbankan. Mending jutaan petani miskin didesa, daripada jutaan buruh pabrik dikota mengamuk karena harga beras mahal, tempe tahu tak tersedia. Petani tetap miskin sampai kapan pun. Sebuah penelitian menunjukkan margin terbesar atas keuntungan beras diterima oleh pedagang. Petani hanya mendapat sekitar 15 persen. (Seperti lagunya Slank…tak mungkin…tak mungkin…pak tani kaya)
Mahasiswa berdemo. Dengan bangga memakai jaket almamater. Ada yang kuning, hijau, merah, biru. Menggusung spanduk dan berteriak : Usut kasus BLBI. Tangkap dan Adili Koruptor BLBI. (Aku jadi ingat pernah meliput ini berkat cerita Dvd yang ternyata memiliki pengalaman yang sama).
Wah! Hebat juga nih rombongan mahasiswa. Rela dijemur matahari, bolos kuliah, demi memperjuangkan uang rakyat yang diselewengkan.
Satu mahasiswa sempat aku tanyai. Dengan ikat kepala dan bendera ditangan ia begitu bersemangat, seakan hendak melumat para koruptor itu.
Fian : “Apa itu BLBI?”
Mahasiswa A : “Bantuan Likuiditas Bank Indonesia”
Fian : “Iya. Maksudnya apa? Untuk apa BLBI itu?”
Mahasiswa A : “Pokoknya itu uang rakyat yang dikorup”
Fian : “Berapa banyak?”
Mahasiswa A : “Banyaklah. Ratusan triliun.”
Fian : “Bagaimana mereka mengkorup BLBI?”
Mahasiswa A : “Caranya macam-macam.Pokoknya koruptor harus kita habisi.”
Fian : “Berapa besar BLBI membebani APBN setiap tahun?”
Mahasiswa A : “Banyak. Dan dananya bisa dipakai untuk pendidikan murah.”
Fian : “Berapa persisnya?”
Mahasiswa A diam saja. Lalu memanggil beberapa temannya. Dan jawaban hanya gelengan, diam, berbisik kepada rekan disampingnya.
Jadi ingat demo pengerajin tempe tahu. Sebut saja Z. Lulus SD pun tidak. Tapi ia tahu apa yang ia perjuangkan. Harga kedelai melonjak, mata pencarian mereka terancam. Berarti dapur terancam dingin. Mereka resah. Mereka lemah. Mereka meminta bantuan pemerintah. Yang mereka suarakan adalah masalah hidup mereka. Yang mereka tahu. Jika aku bertanya kepada mereka apa itu BLBI, dan mereka menggeleng, aku paham.
